DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN DEMAM TYPHOID

Demam typhoid merupakan infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh Salmonella typhi, atau jenis yang virulensinya lebih rendah yaitu Salmonella paratyphi. Media penularan adalah air dan makanan yang tercemar oleh kuman S.typhi. Demam typhoid bisa terjadi pada setiap orang, namun lebih banyak diderita oleh anak-anak dan orang muda. Pada anak-anak hal ini dikarenakan antibodi yang belum terbentuk sempurna dan dari segi sosial, pola makanan anak-anak tidak baik yang didapat di lingkungan. Pada populasi orang muda, penyebaran demam typhoid dapat disebabkan oleh kebiasaan makan yang tidak mempertimbangkan faktor kebersihan dan tidak terbiasanya mencuci tangan sebelum makan.

MANIFESTASI KLINIS
Panas badan tipe step ladder pattern, lidah tifoid, bradikardi relatif, Gejala saluran pencernaan (mual, muntah, mencret, atau konstipasi).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan hematologi rutin didapatkan peningkatan leukosit sebagai penanda adanya proses infeksi.
Pada pemeriksaan widal yang dilakukan setelah panas hari 7, dinyatakan bermakna bila titer O > 1/320, atau titer O < 1/320 dan meningkat 4 kali lipat dalam 2 minggu, atau titer O (-) pada awal pemeriksaan dan menjadi positif dalam 2 minggu tanpa melihat angka titer. Gall kultur dengan media carr empedu merupakan diagnosa pasti demam typhoid bila hasilnya positif, namun demikian, bila hasil kultur negatif belum menyingkirkan kemungkinan typhoid, karena beberapa alasan, yaitu pengaruh pemberian antibiotika, sampel yang tidak mencukupi, yaitu darah < 5cc, riwayat vaksinasi sebelumnya, dan pengambilan darah setelah minggu pertama, sebab pada minggu pertama aglutinin dalam darah masih tinggi sehingga menekan pertumbuhan kuman.

PENATALAKSANAAN
Pada demam typhoid, obat pilihan yang digunakan adalah chloramphenicol dengan dosis 4 x 500mg. Paracetamol diberikan sebagai penurun panas dengan dosis 3 x 500mg, Mempertahankan asupan kalori dan cairan yang adekuat. Memberikan diet bebas yang rendah serat pada penderita tanpa gejala meteorismus, dan diet bubur saring pada penderita dengan meteorismus. Cairan yang adequat untuk mencegah dehidrasi akibat muntah dan diare Istirahat tirah baring

[+/-] Selengkapnya...

BAGAIMANA SEORANG SCHIZOPRENIA BERPIKIR?


Sebenarnya saya agak bingung memikirkan judul yang tepat untuk artikel ini, karena saya sendiri bingung dengan apa yang saya maksudkan. Mungkin setelah membaca artikel ini anda bisa mendapatkan gambaran dan mengerti apa yang ingin saya utarakan. Sudah hampir 2 tahun saya bekerja di rumah sakit jiwa sebagai seorang dokter PTT tapi saya belum juga menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan yang begitu menggelitik rasa ingin tahu saya. Setiap menangani pasien dengan gangguan jiwa dan mengamati pola tingkah laku mereka yang aneh saya selalu bertanya-tanya, apa sih yang mereka pikirkan? Apakah mereka sadar dengan apa yang mereka pikirkan? Kenapa mereka tidak mampu untuk mengontrol pemikiran mereka itu?
Rasanya semua pertanyaan itu tidak akan menjadi sebuah awal dari kata penasaran seandainya kita dengan bodoh menerima jawaban ”yah namanya juga orang gila, ya jelas aneh!”. jawaban itu sangat realistis tapi anda akan kembali merasa penasaran ketika muncul pikiran ”bagaimana sih rasanya jadi orang gila?”.
Schizoprenia berasal dari kata schizos (bahasa yunani) yang artinya retak, seorang dosen saya pernah mengatakan bahwa didalam alquran terdapat istilah hukum schizos yang berarti potong, nah secara keseluruhan kata schizoprenia dapat kita artikan sebagai sebuah pikiran yang terpecah. Dan ini sangat real. Dalam setiap wawancara saya kepada pasien schizoprenia, mereka seolah-olah mempunyai 2 pemikiran atau bahkan lebih. Satu pikiran mereka sadar dan terorientasi dengan baik kepada kita namun disela-sela pemikiran tersebut terselip beberapa pemikiran yang saling tidak berhubungan satu sama lain sehingga pembicaraan mereka terkesan kacau dimata kita sebagai orang nonschizoprenia.
Senang sekali rasanya ketika saya bisa memahami keretakan pikiran seorang schizoprenia. Rasanya ilmu saya semakin lengkap dengan pemahaman yang agak mendalam tentang ilmu jiwa. Tapi tetap saja saya penasaran terhadap cara pikir mereka. Untuk menjawab rasa penasaran itu saya mencoba mewawancarai beberapa pasien yang sudah agak membaik tentang pemikiran mereka saat mereka mengamuk ataupun saat mereka bertingkah laku aneh. Dan yang membuat saya kesal hampir semua pasien menjawab bahwa mereka tidak sadar saat melakukan perbuatan itu, lantas kemana pemikiran logis mereka pergi kalau mereka mengaku tidak sadar saat bertingkah laku aneh? Mungkin kita harus gila dulu untuk bisa mengerti tentang jawaban pertanyaan itu.
Meskipun tidak mendapat gambaran pasti saya tetap mencoba mengira-ngira kemana pikiran logis mereka. Dalam perkiraan saya, kemungkinan besar telah terjadi kebocoran dalam penyimpanan memori diotak mereka, sehingga pada saat mereka mengutarakan sebuah pemikiran tiba-tiba melintas sebuah memori yang terselip dan menjadi pemikiran baru tanpa mereka sadari yang kemudian mengontrol aktivitas mereka. Hanya saja hipotesa saya belum bisa menjawab kenapa orang bisa bertahan dalam keretakan pikiran mereka dalam jangka waktu yang lama. Benar-benar membingungkan bukan?

[+/-] Selengkapnya...

ACUTE CYTOMEGALOVIRUS


Definition
Acute cytomegalovirus (CMV) infection is a condition caused by a member of the herpesvirus family. In most people with a normal immune system, CMV infection does not cause any symptoms. But, some people with this infection develop a "mononucleosis syndrome."

Causes, incidence, and risk factors
Mononucleosis can be caused by several different viruses and a few types of bacteria. acute CMV infection is caused by cytomegalovirus (CMV).
The symptoms of mononucleosis syndrome with CMV include fever and fatigue. Swollen lymph glands in the neck, sore throat, and swollen spleen are less common with CMV. Up to a third of patients may have a rash.
The infection is spread by saliva, urine, respiratory droplets, sexual contact, and blood transfusions. Some young children release the virus in their urine for a long period of time, even when they do not have symptoms. CMV infection may occur at any age. It most commonly develops between the ages of 10 and 35.
Most people are exposed to CMV early in life and do not realize it because they have no symptoms.

Signs and tests
The liver and spleen may be tender when they are gently pressed (palpated).
There may be a skin rash.
Special lab tests will be done to check for substances in your blood that are produced by CMV. This includes a CMV ELISA antibody test and CMV serum PCR test.
A monospot test should be negative in CMV mononucleosis.
Blood tests show a low number of platelets and a high number of certain white blood cells.
A chemistry panel may show abnormal liver enzymes.

Treatment

Most patients recover within 4 to 6 weeks without medication. Rest is needed, sometimes for a month or longer to regain full activity levels. Relief of symptoms is provided with pain killers and warm salt water gargles for sore throat.
Anti-viral medications are usually not used in those with normal immune function

Prognosis

Fever usually goes away in 10 days, and swollen lymph glands and spleen return to normal in 4 weeks. Fatigue may linger for 2 to 3 months.

Complications

Secondary throat infection is the most common complication. Rare complications include: Colitis, Pneumonia, Pericarditis or myocarditis, Guillain-Barré syndrome, Rupture of spleen, Neurologic complications.

medlineplus

[+/-] Selengkapnya...

TINDAKAN PADA SYOK ANAFILAKTIK


Syok anafilaktik adalah salah satu kegawat daruratan yang mungkin sering akan kita hadapi dilapangan selaku tenaga medis. berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menanganinya.
Penderita segera dibaringkan,

  1. Suntikkan Adrenalin (1/1000), 0,3-0,5ml (i.m./s.c.),
  2. Tempat tidur bagian kaki dinaikkan (diganjal) ± 15 cm sehingga didapat posisi kaki lebih tinggi dari kepala (posisi Trendelenburg),
  3. Ukur tekanan darah:
-Bila tekanan darah belum mencapai 90-100 mmHg atau
-Frekwensi jantung (heart rate), belum 90 X / mnt. maka pemberian Adrenalin dapat
diulang selang waktu 7-10 menit (max. 4 X injeksi)

4. Hydrocortison 2 cc atau Dexamethasone 1-2 ampule diberikan i.m./i.v.
5. Bila perlu dapat
diberikan infus NaCl 0,9%

5. Bila tekanan systolik telah mencapai 90-100 mmHg penderita diobservasi:
- disuruh duduk
- kemudian berdiri
- dan akhirnya jalan

Bila sudah baik boleh pulang.

[+/-] Selengkapnya...

ANESTESIA EPIDURAL


Epidural anestesia merupakan salah satu bentuk teknik blok neuroaksial, dimana penggunaannya lebih luas daripada anestesia spinal. Epidural blok dapat dilakukan melalui pendekatan lumbal, torak, servikal atau sacral (yang lasim disebut blok caudal). Teknik epidural sangat luas penggunaannya pada anestesia operatif, analgesia untuk kasus-kasus obstetri, analgesia post operatif dan untuk penanggulangan nyeri kronis.
Ruang epidural berada diuar selaput dura. Radik saraf berjalan di dalam ruang epidural ini setelah keluar dari bagian lateral medula spinalis, dan selanjutnya menuju kearah luar.
Onset dari epidural anestesia (10-20 menit),lebih lambat dibandingkan dengan anestesi spinal. Dengan menggunakan konsentrasi obat anestesi lokal yang relatif lebih encer dan dikombinasi dengan obat-obat golongan opioid, serat simpatis dan serat motorik lebih sedikit diblok, sehingga menghasilkan analgesia tanpa blok motorik. Hal ini banyak dimanfaatkan untuk analgesia pada persalinan dan analgesia post operasi.
Lumbal epidural
merupakan daerah anatomis yang paling sering menjadi tempat insersi/tempat memasukan epidural anestesia dan analgesia. Pendekatan median atau paramedian dapat dikerjakan pada tempat ini. Anestesia lumbal epidural dapat dikerjakan untuk tindakan-tindakan dibawah diafragma. Oleh karena medula spinalis berakhir pada level L1, keamanan blok epidural pada daerah lumbal dapat dikatan aman, terutama apabila secara tidak sengaja sampai menembus dura.
torakal epidural
secara teknik lebih sulit dibandingkan teknik lumbal epidural, demikian juga resiko cedera pada medula spinalis lebih besar. Pendekatan median dan paramedian dapat dipergunakan. Teknik torakal epidural lebih banyak digunakan untuk intra atau post operatif analgesia.
Cervikal epidural biasanya dikerjakan dengan posisi pasien dudu, leher ditekuk dan menggunakan pendekatan median. Secara klinis diginakan terutama untuk penanganan nyeri.

TEKNIK ANESTESI EPIDURAL
Dengan menggunakan pendekatan median atau paramedian, jarum epidural dimasukan melalui kulit sampai menembus ligamentum flavum. Dua teknik yang ada untuk mengetahui apakah ujung jarum telah mencapai ruang epidural adalah teknik “loss of resistance” dan “hanging drop”.
Teknik “loss of resistance lebih banyak dipilih oleh para klinisi. Jarum epidural dimasukkan menembus jaringan subkutan dengan stilet masih terpasang sampai mencapai ligamentum interspinosum yang ditandai dengan meningkatnya resistensi jaringan. Kemudian stilet atau introduser dilepaskan dan spuit gelas yang terisi 2 cc cairan disambungkan ke jarum epidural tadi. Bila ujung jarum masih berada pada ligamentum, suntikan secara lembut akan mengalami hambatan dan sutikan tidak bisa dilakukan. Jarum kemudian ditusukan secara perlahan milimeter demi milimeter sambil terus atau secara kontinyu melakukan suntikan. Apabila ujung jarum telah mesuk ke ruang epidural, secara tiba-tiba akan terasa adanya loss of resistance dan injeksi akan mudah dilakukan.

AKTIFASI EPIDURAL
Jumlah (volume dan konsentrasi) dari obat anestesi lokal yang dibutuhkan untuk anestesi epidural relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan anestesi spinal. Keracunan akan terjadi bila jumlah obat sebesar itu masuk intratekal atau intravaskuler. Untuk mencegah timbulnya hal tersebut, dilakukan tes dose epidural. Hal ini dibenarkan dengan menggunakan jarum ataupun melalui kateter epidural yang telah terpasang.
Test dose dilakukan untuk mendeteksi adanya kemungkinan injeksi ke ruang subaraknoid atau intravaskuler. Test dose klasik dengan menggunakan kombinasi obat anestesi lokal dan epineprin : 3 ml lidokain 1,5 % dengan 0,005 mg/mL epineprin 1:200.000. Apabila 45 mg lidokain disuntikan kedalam ruang subaraknoid akan timbul anestesi spinal secara cepat. 15 g epineprin bila disuntikan intravaskuler akan menimbulakan kenaikan nadi 20% atau lebih. Beberapa menyarankan untuk menggunakan obat anestesi lokal yang lebih sedikit suntikan 45 mg lidokain intratekal akan menimbulkan kesulitan penanganan pada tempat tertentu, misalnya di ruang persalinan. Demikian juga, epineprin sebagai marker injeksi intravena tidaklah ideal. False positif dapat terjadi (kontraksi uterus sehingga menimbulkan nyeri yang berakibat meningkatnya nadi) demikian juga false negatif (pada pasien yang mendapat  bloker). Fentanil telah dianjurkan untuk digunakan sebagai test dose intravena, yang mempunyai efek analgesia yang besar tanpa epineprin. Yang lain menyarankan untuk melakukan tes aspirasi sebelum injeksi dapat dilakukan untuk mencegah injeksi obat anestesi lokal secara intravena.

OBAT-OBAT ANESTESI EPIDURAL
Obat-obat epidural dipilih berdasarkan efek klinis yang diharapkan, apakah akan digunakan sebagai obat anestesi primer, untuk suplementasi pada anestesi umum, atau untuk lokal analgesia. Antisipasi terhadap lamanya prosedur akan memerlukan suntikan tunggal short- atau long acting anestesi atau membutuhkan pemasangan kateter. Umumnya penggunaan obat dengan durasi kerja pendek sampai sedang pada anestesi menggunakan lidokain 1,5-2%, 3% kloroprokain, dan 2% mevipakain. Obat dengan durasi kerja lama termasuk bupivakain 0,5-0,75%, ropivakain 0,5-1%, dan etidokain. Hanya obat-obat anestesi lokal yang bebas preservatif atau yang telah diberi label khusus untuk epidural atau kaudal saja yang dianjurkan.
Sesuai dengan kaidah bolus 1-2 mL per segmen, dosis ulangan melalui kateter epidural dikerjakan dalam waktu yang tetap, berdasarkan pengalaman praktisi terhadap enggunaan obat tersebut, atau apabila telah menunjukan regresi blok. Waktu regresi dua segmen sesuai dengan karakteristik masing-masing obat anestesi lokal dan didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya penurunan level sensoris sebanyak dua level dermatum. Bila telah terjadi regresi dua segmen, boleh diberikan suntikan ulang sebanyak sepertiga sampai setengah dari dosis inisial.
Harus dicatat bahwa kloroprokain, suatu ester dengan onset yang cepat, durasi yang pendek, dan toksisitas yang rendah, akan mungkin bertumpang tindih dengan efek efek epidural dari opiat. Dulunya formulasi dari kloroprokain dengan preservatif bisulfit dan EDTA tampaknya menjadi suatu permasalahan. Preparat bisulfit menimbulkan neurotoksik bila disuntikan intratekal dengan volume yang besar. Sedangkan formulasi EDTA menimbulkan nyeri pinggang yang berat (diperkirakan karena terjadinya hipokalemia lokal). Saat ini preparat kloroprokain sudah bebas preservatif dan tidak menimbulkan komplikasi tersebut.
Bupivakain, yang merupakan salah satu anestesi lokal golongan amide dengan onset yang lambat dan durasi kerja yang panjang, mempunyai potensi menimbulkan toksisitas sistemik. Anestesi untuk pembedahan diijinkan untuk menggunakan formulasi 0,5 % dan 0,75 %. Konsentrasi 0,75 % tidak dianjurkan pada anestesi obstetri. Penggunaannya pada masa lalu dilaporkan menimbulkan cardiac arrest sebagai akibat injeksi kedalam intravena. Kasulitan dalam melakukan resusitasi dan tingginya angka kematian sebagai akibat ikatan dengan protein yang sangat tinggi dan kelarutan bupivakain dalam lemak, mengakibatkan akumulasi dalam sistim hantaran jantung sehingga timbul refractory re-entrant arrhythmias. Konsentrasi yang sangat encer dari bupivakain (misal 0,0625%) sering dikombinasi dengan fentanil dan digunakan untuk analgesia untuk persalinan dan nyeri pasca operasi.S-enantiomer dari bupivakain : levobupivakain, tampaknya berefek anestesi lokal pada konduksi saraf tetapi tidak menimbulkan efek toksik secara sistemik. Ropivakain, kurang toksik dibandingkan bupivakain, potensi, onset, durasi dan kualitas blok sama dengan bupivakain.

KEGAGALAN BLOK EPIDURAL
Tidak seperti anestesi spinal, yang mana hasil akhirnya sangat jelas, dan secara teknis tingkat keberhasilannya tinggi, anestesi epidural sangat tergantung pada subyektifitas deteksi dari loss of resistance (atau hanging drop). Juga, lebih bervariasinya anatomi dari ruang epidural dan kurang terprediksinya penyebaran obat anestesi lokal, karenanya membuat anestesia epidural kurang dapat diprediksi.
Kesalahan tempat penyuntikan obat anestesi lokal dapat terjadi dalam sejumlah situasi. Pada beberapa dewasa muda, ligamentum spinalis lembut dan perubahan resistensi yang baik tidak bisa dirasakan, dengan kata lain kekeliruan dari loss of resistance tidak bisa dipungkiri. Demikian juga bila masuk ke muskulus paraspinosus dapat menimbulkan kekeliruan loss of resistance. Penyebab lain kegagalan anestesi epidural seperti injeksi intratekal, subdural, dan injeksi intravena. Walaupun dengan konsentrasi dan volume yang adekuat dari obat anestesi lokal telah dimasukkan kedalam ruang epidural, dan waktu yang dibutuhkan telah mencukupi, beberapa blok epidural tidak berhasil. Blok unilateral dapat terjadi bila obat diberikan lewat kateter yang keluar dari ruang epidural. Bila blok unilateral terjadi, masalah tersebut dapat diatasi dengan menarik kateter 1-2 cm dan disuntikan ulang dimana pasien diposisikan dengan bagian yang belum terblok berada disisi bawah. Bisa juga pasien mengeluh akibat nyeri viseral pada blok epidural yang bagus. Pada beberapa kasus (tarikan pada ligamentum inguinale dan tarikan spermatic cord), yang lainnya seperti tarikan peritoneum. Pada keadaan ini diperlukan pemberian suplementasi opioid intravena. Serat aferen visceral yang berjalan bersama nervus vagus mengakibatkan semua hal ini.

diterjemahkan dari
Morgan Edward G.
Epidural Anesthesia.Clinical anesthesiologi.
fourth edition.Appleton & Lange. 2006

download this full word document klik here

[+/-] Selengkapnya...

CARA MENGHITUNG CAIRAN INFUS



Terkadang kita agak kesulitan dalam menghitung tetesan infus yang akan kita berikan kepada seorang pasien, berikut tips2 nya
RUMUS
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro

contoh soal :
1. infus 500 cc diberikan kepada seorang pasien 20 tetes makro/ menit habis dalam berapa jam? jika dalam micro?
jawab : 1 cc = 20 tetes makro --> berarti pasien diberikan 1 cc/ menit
infus yang tersedia 500 cc --> = akan habis dalam 500 dibagi 60 menit = 8,333 jam
kalo dalam micro tinggal di kali 3 aja. jadinya = 24,99 jam.
2. berapa tetes macro per menit tetesan 500 cc infus RL harus diberikan agar habis dalam 4 jam?
jawab : 500 cc dibagi 4 jam = 125 cc --> ini jumlah cc RL yang harus diberikan per jamnya
125 cc dibagi 60 = 2,083 cc / menit. ini jumlah cc RL yang harus diberikan per menitnya.
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro jadi 2,083 cc = (2,083 x 20) 41,66 tetes makro = (2,083 x 60) 124,98 tetes mikro. mudah kan?
selamat mencoba!

[+/-] Selengkapnya...

TREEBLE


Fantastis, luar biasa, mantaps, mak nyos semua kata-kata itu pantas kita ucapkan untuk mewakili squad inter musim ini. Bagaimana tidak, tiga gelar prestisius (coppa italia, scudetto dan liga champion eropa) berhasil di bawa pulang ke kota milan. Pantaslah kita berbangga, inter menjadi satu-satunya tim italia yang pernah meraih treeble winners dan ini juga sekaligus mengakhiri puasa gelar liga champion eropa inter selama 45 tahun. Akhirnya presiden klub inter massimo moratti berhasil menyamai prestasi ayahnya angelo moratti yang juga pernah mengangkat trofi liga champion 45 tahun yang lalu.

Semua prestasi ini tidak lepas dari kerja keras para punggawa inter, dukungan fans serta peran luar biasa dari jose mourinho yang telah berhasil menata ulang DNA eropa inter sehingga bisa di konversikan menjadi perolehan treeble musim ini. Sejak awal musim banyak pengamat yang meragukan kemampuan inter di eropa, apalagi dengan riwayat sempat terseok2 di penyisihan grup dan dikalahkan barcelona 2-0 di nou camp. Tapi kenyataan berbicara lain, sepak bola efektif yang diprakarsai oleh jose mourinho benar-benar diterjemahkan dengan baik oleh para punggawa inter dilapangan, dan hasilnya : ”treeble winners”.

Banyak orang mengatakan kalo gaya permainan catenacio yang dimainkan inter amat membosankan jika dibandingkan dengan MU dan Barcelona. Mereka mengatakan : ”jika bermain, seolah-olah inter memarkir sebuah bus didepan gawangnya”. Tapi pendapat mereka tidak sepenuhnya benar. Justru pertahanan grendel itulah sisi menarik dari permainan inter. Coba kita lihat catatan statistik permainan inter musim ini saat bermain melawan klub-klub besar, rata-rata ball possesion pasti miring setengah lapangan, tapi rasio shot on target dengan shot on goal musuh sangat rendah dibandingkan dengan inter. Kalo orang banyak bilang inter hanya bisa bertahan kenapa banyak bisa mencetak goal? Lagian kalau musuh menyerang terus masak kita mau nyerang juga kan bodoh namanya! Menurut saya (meskipun jika dicoba melihat dari sudut pandang non interisti) permainan inter memang pasif, tapi begitu mendapat bola permainan inter menjadi sangat menarik, dengan umpan2 pendek melalui kaki sneijder sebagai pengatur serangannya.

Bagaimana jika mourinho pergi? Saya sebagai interisti merasa takut juga mengahadapi kenyataan ini, tapi saya kenbali tersadar bahwa inter kuat bukan hanya karna 1 orang saja, tapi karena peran serta semua pihak! And also the winning DNA was in our blood! So don’t worry guys next trofi will come soon to our hands!

Forza inter!

[+/-] Selengkapnya...

LAGU c_e solo l_inter




KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD LAGU

DOWNLOAD TEKS LAGU

[+/-] Selengkapnya...

LAGU PAZZA INTER AMALA





KLIK DISINI INTUK DOWNLOAD LAGUNYA

TEKS BESERTA ARTINYA :

download disini

[+/-] Selengkapnya...

MEROKOK DAN ANESTHESIA



Perokok, baik yang aktif maupun yang pasif memiliki risiko hampir 6 kali lipat untuk mengalami masalah pernapasan perioperatif jika dibandingkan dengan non perokok. Rokok mengandung nikotin dan sedikitnya 4700 bahan kimia lainnya yang 43 diantaranya dikenal bersifat karsinogenik. Merokok dalam jangka panjang dapat menimbulkan banyak penyakit seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kanker paru, penyakit jantung iskemik dan berbagai masalah pembuluh darah lainnya.
Pada perokok mukosa saluran pernapasannya akan memproduksi mukus dalam jumlah yang besar namun dibersihkan dengan kurang efektif oleh silia pada mukosa saluran pernapasan karena fungsinya yang terganggu. Saluran pernapasannya menjadi hiper-reaktif akibat kegagalan dari fungsi kekebalan tubuh diarea tersebut. Hal ini menyebabkan para perokok potensial bermasalah pada saluran pernapasannya selama anestesia berlangsung dan juga pada periode post operatif, dimana beberapa penyakit seperti atelektasis dan pneumonia sudah mengintai para perokok, terutama pada pasien yang dilakukan pembedahan di area dada. Risiko ini juga dapat meningkat pada pasien yang kegemukan (obesitas).
Peningkatan sensitifitas saluran pernapasan pada perokok dapat muncul sebagai batuk, spasme laring, dan turunnya saturasi O2 secara cepat pada saat di induksi menggunakan volatil agents terutama jenis isofluran. Namun hal ini dapat diatasi dengan menggunakan bahan yang kurang iritatif seperti sevofluran dan melakukan pendalaman anestesia secara perlahan atau menggunakan induksi jalur intravena menggunakan propofol.

Untuk mengurangi semua risiko anestesi pada perokok dapat ditempuh beberapa hal berikut :
1. Berhenti merokok setidaknya 8 minggu sebelum suatu tindakan operasi elektif dilakukan.
2. Apabila sulit melakukan hal diatas setidaknya pasien tidak merokok selama 12 jam sebelum operasi untuk menghilangkan efek nikotin (aktivasi sistem simpatoadrenergik yang dapat meningkatkan tahanan arteri koroner). Disamping itu kadar karboxyhemoglobin (COHb) yang pada perokok berat dapat mencapai 5-15% dapat diturunkan. Peningkatan kadar COHb ini dapat menggeser kurva disosiasi ke kiri sehingga menurunkan kadar oksigen yang dapat diangkut oleh darah. Ikatan COHb ini juga dapat mengaburkan pembacaan alat pengukur saturasi O2 karena memiliki spektrum yang hampir sama dengan oxyhemoglobin sehingga dapat terjadi apa yang kita kenal dengan falsely high oxygen saturation reading.

Sumber : oxford handbook of anesthesia


[+/-] Selengkapnya...

PUASA PREOPERATIF


Puasa menjelang sebuah tindakan operasi adalah suatu hal yang rutin dilakukan untuk mengurangi efek samping dari suatu tindakan anestesi yang dilakukan selama pembedahan. Puasa bertujuan mengurangi resiko terjadinya aspirasi cairan lambung ke paru-paru pada penderita yang sedang menjalani pembedahan. Aspirasi sering terjadi pada pasien yang anestesianya tidak adequat, hamil, gemuk, airway sulit, operasi emergency, perut penuh dan pasien dengan gangguan motilitas usus. Aspirasi cairan lambung hingga 30-40 cc dapat mengakibatkan kerusakan paru yang serius yang dapat kita hindari dengan cara mengurangi volume cairan lambung melalui puasa.
FISIOLOGI LAMBUNG
Periode puasa yang harus dilakukan oleh pasien menjelang pembiusan disesuaikan dengan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi menjelang tindakan pembiusan dilakukan. Hal ini sangat terkait dengan kemampuan lambung dalam mengosongkan isinya. Cairan bebas ampas biasanya dengan cepat dapat dikosongkan oleh lambung (half life 10-20 menit) contohnya air mineral, jus buah tanpa ampas, minuman bersoda, teh dan kopi hitam, tapi tidak demikian dengan minuman beralkohol.
Makanan padat biasanya lebih lama bertahan dilambung jika dibandingkan dengan cairan. Biasanya sangat tergantung kepada kandungan gizi dari jenis makanan padat tersebut. Makanan yang bayak mengandung lemak atau makanan jenis daging biasanya memerlukan waktu hingga 8 jam lebih untuk bisa dikosongkan sepenuhnya dari lambung. Sedangkan makanan ringan dan biskuit hanya membutuhkan waktu 4 jam untuk keluar sepenuhnya dari lambung. Susu dalam hal ini tergolong bahan padat karena pada saat mencapai lambung dia akan bereaksi dengan asam lambung membentuk massa yang padat yang perlu waktu lebih lama untuk di cerna. Susu sapi memerlukan waktu hingga 5 jam hingga kosong sepenuhnya dari lambung. Sedangkan ASI yang kadar protein dan lemaknya lebih rendah dari susu sapi dalam proses pencernaannya memerlukan waktu yang lebih cepat.

ASA FASTING GUIDELINES (1999)
JENIS MAKANAN LAMA PUASA MINIMAL
Minuman ringan 2 jam
ASI 4 jam
Susu formula bayi 4-6 jam
Non human milk 6 jam
Makanan ringan 6 jam

Kondisi yang dapat memperlambat pengosongan lambung
1. Faktor metabolik seperti penyakit DM yang tidak terkontrol, gagal ginjal.
2. Gastroesofageal refluks dapat memperlambat pengosongan lambung dari makanan padat.
3. Peningkatan tekanan intra-abdomen (hamil, obesitas)
4. Dalam pengaruh opioid
5. Trauma

Catatan : Premedikasi oral yang diberikan 1 jam sebelum operasi dilakukan tidak memberikan efek kepada volume cairan lambung. Pada studi kasus menggunakan oral midazolam 30 mg tidak terbukti adanya regurgitasi dan aspirasi.

Bahan-bahan yang dapat mengontrol keasaman dan volume cairan lambung :
1. Antasida
2. H2 blokers/ penghambat pompa proton
3. Metocloperamide (lebih efektif IV daripada oral)
4. Antikolinergik

Catatan : pada pasien hamil direkomendasikan untuk memberikan ranitidine 150 mg pada malam hari sebelum operasi dilakukan dan 2 jam sebelum operasi dilakukan. Selama persalinan, pasien risiko tinggi direkomendasikan untuk memberikan ranitidine 150 mg setiap 6 jam. Pada kasus emergency diusahakan untuk memberikan ranitidine IV 50 mg sesegera mungkin.

Sumber : oxford handbook of anesthesia

[+/-] Selengkapnya...

ELECTRO CONVULSIF THERAPY


Electro Convulsif Therapy (ECT) atau yang lebih dikenal dengan elektroshock adalah suatu terapi psikiatri yang menggunakan energi shock listrik dalam usaha pengobatannya. Biasanya ECT ditujukan untuk terapi pasien gangguan jiwa yang tidak berespon kepada obat psikiatri pada dosis terapinya. ECT pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang neurologist Italia Ugo Cerletti dan Lucio Bini pada tahun 1930. Diperkirakan hampir 1 juta orang didunia mendapat terapi ECT setiap tahunnya dengan intensitas antara 2-3 kali seminggu.
MEKANISME KERJA
ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat memberi efek terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik. Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang dimana seseorang kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang mekanisme pasti dari kerja ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan memuaskan. Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan kadar serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada pasien depresi yang tidak responsif terhadap terapi farmakologis.
INDIKASI
ECT ditujukan bagi pasien gangguan jiwa baik itu schizoprenia maupun depresi berat (terutama dengan risiko bunuh diri) yang tidak berespon terhadap terapi farmakologis dengan dosis efektif tinggi dan psikoterapi. Namun diperlukan pertimbangan khusus jika ingin melakukan ECT bagi ibu hamil, anak-anak dan lansia karena terkait dengan efek samping yang mungkin di timbulkannya.
KONTRA INDIKASI
Absolut : Infark myocard, CVE, massa intracranial
Relatif : Angina tidak terkontrol, Gagal jantung kongestif, Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal detachment

EFEK SAMPING
Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari anesthesia umum. Secara psikis efek samping yang paling sering muncul adalah kebingungan dan memory loss setelah beberapa jam kemudian. Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia retrograde dan antegrade. Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa ECT dapat merusak struktur otak. Namun hal ini masih diperdebatkan karena masih belum terbukti secara pasti.
Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :
Cardiovaskuler :
1. Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)
2. Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia, hipertensi, peningkatan konsumsi oksigen otot jantung, dysrhythmia)
Efek Cerebral :
1. Peningkatan konsumsi oksigen.
2. Peningkatan cerebral blood flow
3. Peningkatan tekanan intra cranial
Efek lain :
1. Peningkatan tekanan intra okuler
2. Peningkatan tekanan intragastric

TINDAKAN
1. Inform consent
2. Puasa 6 jam
3. Stop obat psikiari oral
4. Premedikasi sedatif tidak direkomendasikan karena dapat memperpanjang masa pulih.
5. Pilihan obat anestesi short acting (propofol atau thiopental) + muscle relaxant (succinylcholine)
6. Untuk mencegah efek parasimpatik dapat diberikan atropine.
7. untuk mencegah efek simpatis pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler dapat diberikan atenolol 50 mg pada saat preoperatif
8. Elektrode dapat diletakkan di sisi yang sama pada kepala (unilateral) untuk mengurangi efek samping memory loss dan meminimalisir efek kognitif ataupun diletakkan pada kedua sisi dari kepala (bilateral). Namun metode bilateral biasanya lebih efektif dan lebih direkomendasikan dibandingkan unilateral.
9. Level stimulus untuk bilateral ECT adalah ½ kali ambang kejang, sedangkan untuk unilateral bisa melebihi12 kali ambang kejang. Ambang kejang dapat ditentukan dengan sistem trial and error ataupun menggunakan standar yang sudah ada.

Sumber : wikipedia dan oxford handbook of anesthesia



[+/-] Selengkapnya...

JEHOVAH’S WITNESSES

Jehovah’s witnesses adalah sebuah kepercayaan yang tidak menyetujui transfusi darah bagi penganutnya. Kepercayaan ini telah ada sejak hamper 120 tahun dan telah dianut oleh sekitar 6 juta lebih penduduk dunia. Kepercayaan ini mulai berkembang pesat sejak tahun 1945. mereka tidak hanya menolak transfusi terhadap whole blood tapi juga beserta segala komponennya. Namun seiring perkembangan zaman kebijakan bagi penganutnya mulai melunak.

Beberapa komponen darah seperti albumin, immunoglobulins, haemophiliac preparations masih mendapat perkecualian bagi beberapa kelompok penganutnya. Operasi bypass jantung juga masih mendapat perkecualian oleh kepercayaan ini karena tidak menggunakan darah sebagai komponen penggantinya melainkan cairan kristaloid.


Kepercayaan ini sudah mendapatkan pengakuan yang sah dimata hukum sehingga bagi dokter yang melanggarnya atau mengabaikan keberatan pasien atas tranfusi dapat dituntut di pengadilan. Dokter hanya diperbolehkan melakukan transfusi hanya apabila pasien berada dalam kondisi yang mengancam nyawa dan dia tidak dapat memberikan pernyataan tentang keberatannya terhadap transfusi yang akan dilakukan (pasien tidak sadar).
Dalam kasus anak dengan orang tua yang memiliki kepercayaan Jehovah’s witnesses (umur kurang dari 16 tahun) maka jika dokter wajib mengikuti kehendak orang tuanya jika dalam kasus yang tidak darurat tapi pada kasus darurat tetap harus dilakukan transfusi dengan catatan harus dibuat rekam medis yang baik agar keluarga pasien tidak komplain.

Management Preoperatif
1. Inform consent yang baik
2. Catat list obat-obat atau bahan-bahan yang bisa diterima oleh tubuh pasien
3. Usahakan pasien dalam kondisi normovolemik haemodilution sebelum tindakan
operasi dilakukan.
4. Bila memungkinkan dan diperlukan ambil darah pasien secukupnya untuk kebutuhan
transfusi yang mendesak.
5. Anemia pre operatif harus diobati segera dengan memberikan tablet SF 2 x 200 mg dan
recombinant erythropoetin β inisial 20 units/ Kg BB SC 3 kali seminggu) dengan catatan
peningkatan HB mungkin baru muncul dalam sebulan.
6. Pilihan tehnik anestesi dan pembedahannya harus yang minimal blood loss

Managemen Intraoperatif
1. Minimalisir perdarahan intra operatif
2. Usahakan menggunakan peralatan monitoring yang noninvasif
3. Gunakan sistem intra-operative cell salvage.
4. Transamin 1 gr 3-4 x sehari sangat disarankan untuk menambah coagulability darah dan
mengurangi fibrinolisis.
5. Desmopressin (0.3–0.4 µg/kg) diharapkan dapat meningkatkan kadar factor VIII

Management Post operatif
1. Kirim ke ICU
2. Pada perdarahan masive gunakan ventilasi positif untuk mengurangi oksigen demand
3. Gunakan intravenous iron sucrose (Venofer(r) 100–200 mg IV) 3 kali seminggu, folinic acid
(15 mg/hari), dan recombinant erythropoetin β inisial 20 units/ Kg BB SC 3 kali seminggu).
4. Usahakan temperatur ruangan diatur dingin untuk mengurangi konsumsi oksigen meskipun
dengan risiko hambatan homeostasis
5. Beberapa pusat-pusat pengobatan menyarankan Hiperbarik oksigen.

-oxford handbook of anesthesiology 2008-



[+/-] Selengkapnya...

ANESTESIA PADA PEMBEDAHAN


Kata anestesia mungkin terasa asing bagi telinga anda sebagai orang awam dalam bidang kesehatan. Anestesia dalam keseharian lebih akrab dikenal dengan pembiusan. Anestesia sendiri berasal dari kata “an” dan “aesthesia” yang berarti mematikan rasa. Ilmu yang mempelajari tentang anesthesia dikenal dengan anesthesiology. Anesthesiology mencakup semua hal yang berhubungan dengan nyeri, pembiusan operasi dan kegawat daruratan, namun anesthesia lebih akrab dikenal oleh masyarakat sehubungan dengan proses pembiusan pada saat tindakan pembedahan dilakukan. Anesthesia pada pembedahan diawali oleh tindakan praanesthesia atau persiapan pasien sebelum menjalani pembedahan. Pada fase ini pasien dapat menceritakan semua riwayat penyakitnya serta ketakutannya dalam menghadapi pembedahan kepada dokter spesialis anestesi yang akan menangani pembiusannya. Dokter anestesi akan memeriksa penyakit utama pasien serta penyakit penyerta yang ada yang dapat menjadi penyulit pada saat nanti dilakukan tindakan pembiusan. Dokter anestesi juga akan mempertimbangkan faktor tekanan psikis yang dialami oleh pasien sehubungan dengan tindakan pembedahan yang akan dijalaninya. Faktor psikis ini juga sangat menentukan keberhasilan proses pembiusan dan pembedahan yang akan dijalani, sebab seringkali kondisi psikis pasien yang lemah dapat mempengaruhi kondisi fisiknya sehingga tidak siap pada saat pembiusan dilakukan.
Ketika pasien telah siap untuk menjalani tindakan pembedahan maka pembiusan pun dilakukan. Secara umum ada tiga hal yang akan di “matikan” selama proses pembedahan berlangsung, yaitu : mati ingatan, mati rasa dan mati gerak, yang mana dalam setiap tindakan pembedahan membutuhkan pembiusan yang berbeda. Semakin besar tindakan bedah yang akan dilakukan biasanya tindakan anesthesianya pun semakin lengkap. Anesthesia selama pembedahan dibagi menjadi general anesthesia atau bius umum, regional anesthesia dan local anesthesia atau bius local. Pilikan jenis tindakan anesthesia yang akan dilakukan biasanya telah didiskusikan pada fase praanestesia, sehingga pasien dapat memilih jenis pembiusan yang akan dijalaninya dengan arahan dari dokter anestesi yang menanganinya. Setelah dilakukan pembiusan maka pasien siap menjalani pembedahannnya dengan nyaman.
Setelah proses pembedahan berakhir maka pasien akan memasuki tahapan reanimasi atau mengembalikan kembali semua fungsi tubuh yang telah di matikan pada proses pembiusan sebelumnya. Pada proses inilah permasalahan dapat timbul, seperti pasien tidak bangun-bangun lagi, atau mengalami koma yang dalam, atau pasien memberontak keras karena mendadak kesadarannnya pulih. Biasanya hal ini merupakan sebuah risiko yang dapat dialami oleh siapa saja yang mengalami pembiusan. Beberapa ahli anestesi telah menganalisa bahwa respon setiap orang terhadap obat-obatan anesthesia sangat beragam, terkadang dengan dosis yang minimal pun beberapa orang dapat memberikan respon pembiusan yang sangat dalam. Tapi kita tidak perlu khawatir sebab dokter anestesi telah memperhitungkan semua kemungkinannnya dengan cermat.


Setelah kesadaran pasien pulih timbul permasalahan baru yang mengganggu kenyamanan pasien yaitu nyeri paska pembedahan serta segala permasalahn yang menyertainya yang dapat menghambat proses penyembuhan pasien. Disini peran seorang dokter anestesi sangat penting dalam melakukan managemen nyeri sehingga pasien tetap merasa nyaman selama menjalani proses penyembuhannnya.



[+/-] Selengkapnya...

TATALAKSANA NYERI AKUT



Sensasi nyeri adalah suatu hal yang sangat sering kita alami dalam keseharian kita.. Sensasi nyeri berdiri sendiri di antara sensasi lainnya karena disertai oleh unsur psikologis dan emosional. Hal ini diketahui oleh International Association for the Study of Pain (IASP) yang mendefinisikan nyeri sebagai “sensasi atau rasa yang tidak nyaman dan pengalaman emosional yang disebabkan oleh kerusakan jaringan atau kemungkinan kerusakan jaringan atau istilah-istilah lainnya yang digunakan untuk menjelaskan kerusakan tersebut.” Sehingga dapat dikatakan bahwa sensasi nyeri adalah alarm peringatan yang memberitahu kesadaran bahwa ada sesuatu dalam tubuh kita yang tidak berjalan normal. Bila nyeri tidak ditangani secara benar maka dapat menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut.

Nyeri akut adalah nyeri yang mendadak dan bersifat sementara yang biasanya dapat berlangsung beberapa hari (kurang dari 2 minggu). Biasanya nyeri akut dapat merupakan respon awal dari adanya kerusakan jaringan tubuh. Bentuk dari nyeri akut dapat berupa nyeri somatik luar (nyeri tajam di kulit, subkutis, mukosa), nyeri somatik dalam (nyeri tumpul di otot rangka, tulang, sendi, jaringan ikat) dan nyeri viseral (nyeri karena penyakit atau disfungsi organ dalam). Konsekuensi dari adanya kerusakan jaringan adalah disekresikannnya zat- zat kimia bersifat algesik (menimbulkan nyeri) yang berkumpul di sekitarnya dan dapat menimbulkan nyeri. Zat mediator inflamasi tersebut diantaranya: bradikinin, histamin, katekolamin, sitokinin, serotonin, proton, lekotrien, prostaglandin substansi-P dan 5-hidroksitriptamin.

Mekanisme nyeri diawali oleh adanya sensasi nyeri yang ditangkap oleh tubuh melalui reseptornya dikulit yaitu free nerve ending (ujung saraf bebas). Reseptor nyeri dapat dirangsang oleh stimulasi mekanik, suhu panas, atau oleh zat kimia yang mengiritasi. Ketika reseptor nyeri pada jaringan perifer dirangsang (misalnya pada kulit) maka impuls nosiseptif (nyeri) dihantarkan ke sistem saraf pusat oleh serabut saraf khusus melalui medula spinalis menuju ke otak, yang nantinya pada Pusat-pusat yang lebih tinggi ini sensasi nyeri akan diubah menjadi persepsi nyeri serta komponen emosional yang menyertainya. Respons sistemik terhadap nyeri akut berhubungan dengan respons neuroendokrin sesuai derajat nyerinya. Nyeri akut akan menyebabkan peningkatan hormon katabolik (katekolamin, kortisol, glukagon, renin, aldosteron, angiotensin, hormon antidiuretik) dan penurunan hormon anabolik (insulin, testosteron). Manifestasi nyeri dapat berupa hipertensi, takikardi (denyut nadi di atas normal), hiperventilasi (kebutuhan Oksigen dan produksi karbon dioksida meningkat), tonus sfingter saluran cerna dan saluran air kemih meningkat (ileus, retensi urin).

Penentuan derajat nyeri akut sangat penting guna merencanakan pengobatan yang akan dipilih.. Derajat nyeri akut dapat diukur dengan macam- macam cara, misalnya tingkah laku pasien, skala verbal dasar, skala analog visual dan lain-lain. Secara sederhana nyeri akut pada pasien sadar dapat langsung ditanyakan pada yang bersangkutan dan biasanya dikatagorikan sebagai: tidak nyeri (none), nyeri ringan (mild, slight), nyeri sedang (moderate), nyeri berat (severe) dan sangat nyeri (very severe, intolerable). Kemudian paramedis dapat mencocokkkan antara rasa nyeri yang diungkapkan oleh pasien dengan ekspresi nyeri yang ditunjukkannya guna menentukan derajat nyeri yang sesungguhnya.

Penanganan nyeri akut memerlukan kombinasi dari terapi farmakologis dan non farmakologis. Dimana pada terapi nonfarmakologis kita harus memperbaiki atau mengobati juga kerusakan jaringan yang menimbulkan nyeri atau mengatasi juga kondisi sistemik yang dapat menimbulakan nyeri disamping tetap memberikan terapi farmakologis untuk mengatasi rasa nyerinya. Metoda terapi farmakologis nyeri akut, disesuaikan dengan standar pola penangannan nyeri dari WHO. Untuk mengatasi nyeri ringan digunakan obat anti inflamasi non steroid (parasetamol, asam mefenamat, ibuprofen, natrium diclofenak), untuk mengatasi nyeri sedang digunakan obat anti inflamasi non steroid dikombinasi dengan golongan opioid (narkotika) lemah seperti kodein dan untuk mengatasi nyeri berat digunakan obat anti inflamasi non steroid dikombinasi dengan golongan opioid kuat (morfin). Selain pengobatan diatas kadang dibutuhkan juga pengobatan tambahan diantaranya obat sedatif bila nyeri disertai stress, pengobatan akupunktur, sampai blok anestesi.

Metoda pengobatan nyeri dapat dengan cara sistemik (oral, rectal, transdermal, sublingual, subkutan, intramuscular, intravena atau perinfus). Cara yang sering digunakan dan paling digemari ialah intramuscular sebab memberikan efek penghilang nyeri lebih cepat, meskipun paradigma ilmu kedokteran saat ini telah berupaya untuk mendidik masyarakat sedapat mungkin mengurangi pemberian obat intramuscular. Metoda regional misalnya dengan epidural opioid atau intraspinal opioid. Kadang- kadang digunakan metoda infiltrasi pada luka operasi sebelum pembedahan selesai. Untuk masyarakat umun bila mengalami nyeri disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan sesuai dengan masalah nyeri yang dialami.

-Dari berbagai sumber-


[+/-] Selengkapnya...

MENGENAL OBAT PENENANG (SEDATIF)

Akhir-akhir ini kita sudah sering mendengar tentang penggunaan obat-obat penenang yang berlebihan terutama yang terkait dengan kematian sang raja pop “Michael Jackson”. Tentu kita banyak bertanya-tanya sebenarnya apa sih obat penenang itu?

Obat penenang atau yang dalam dunia medis lebih dikenal dengan sedatif adalah jenis obat-obatan yang memberikan efek tidur dengan cara memberikan rasa tenang kepada orang yang mengkonsumsinya. Obat penenang biasanya tidak dijual bebas diapotik, melainkan harus menggunakan resep dokter.
Obat-obat penenang biasanya bekerja di sistem saraf pusat dengan berikatan pada reseptor GABA yang merupakan neurotransmiter bersifat inhibisi pada sistem saraf pusat manusia. Obat penenang juga bekerja menghambat efek eksistasi pada reseptor glutamate sehingga pada dosis yang tepat orang yang mengkonsumsinya akan merasa tenang dan dapat tertidur dengan nyaman.

JENIS-JENIS OBAT PENENANG

1. Barbiturat seperti: amobarbital, pentobarbital, secobarbital, Phenobarbitol
2. Benzodiazepin seperti : clonazepam, diazepam, estazolam, flunitrazepam, lorazepam,
midazolam, nitrazepam, oxazepam, triazolam, temazepam, chlordiazepoxide, alprazolam
3. Herbal sedatif seperti : ashwagandha, catnip, kava, mandrake, valerian
4. Nonbenzodiazepin sedatif seperti : eszopiclone, zaleplon, zolpidem, zopiclone
5. Antihistamin seperti : Diphenhydramine dan Dimenhydrinate.

Diazepam
Obat penenang jenis ini cukup sering digunakan dikalangan medis bahkan termasuk obat yang paling sering diresepkan dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini. Diazepam banyak digunakan karena memiliki rentang dosis letal yang lebar namun memiliki efek penenang yang cukup kuat. Diazepam banyak digunakan untuk mengurangi kecemasan dan mengatasi kejang. Namun obat ini tidak disarankan untuk diberikan kepada ibu hamil dan menyusui.

Diphenhydramine
Diphenhydramine banyak digunakan di praktek dokter bersama-sama dengan obat penurun panas (antipiretik) sehingga pasien dapat tidur dengan nyaman. Sebenarnya Diphenhydramine adalah obat anti gatal dan alergi (anti histamin) yang bekerja memblok reseptor H1 dengan efek samping sedatif. Sehingga efek samping sedatif inilah yang sebenarnya dicari dalam pemberiannya. Diphenhydramine cukup aman digunakan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir jika tenaga medis memberikan obat jenis ini.
Biasanya obat penenang diresepkan oleh dokter guna mengobati kecemasan yang berlebihan. Namun dapat juga digunakan bersama-sama dengan obat penahan rasa sakit (analgesik) guna meningkatkan efek penahan rasa sakitnya. Namun obat penenang paling sering digunakan pada anestesi (pembiusan) sebelum pembedahan dilakukan.
Obat penenang tidak boleh dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama (kecuali atas indikasi medis tertentu) karena dapat menimbulkan efek ketergantungan. Obat penenang sangat sering disalahgunakan di masyarakat. Gejala-gejala ketergantungan obat penenang akan muncul jika penggunaan obatnya dihentikan, seperti : gelisah, susah tidur, badan lesu, mudah lelah, kejang (pada orang dengan riwayat kejang sebelumnya) dan bahkan dapat menimbulkan kematian. Tapi jangan khawatir jika anda mengkonsumsi obat penenang sesuai anjuran dokter, sebab Pada umumnya semua obat penenang baru menimbulkan gejala ketergantungan jika pemakaiannya lebih dari 90 hari dengan dosis terapi.
Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan maka akan terjadi gejala overdosis obat penenang, yaitu : gangguan koordinasi, sulit berpikir, badan lemas, diikuti dengan kesulitan bernapas dan akhirnya mengarah kepada kematian. Untuk menghindarinya sangat disarankan untuk tidak mengkonsumsi obat penenang melebihi dosis yang diinstruksikan oleh dokter yang merawat anda.
Obat penenang sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi bersama dengan alkohol karena dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya over dosis, sebab kedua obat ini dapat bekerja saling menguatkan efek masing-masing obat.
Beberapa obat penenang juga banyak dikaitkan dengan kasus kriminal karena penggunaannya dalam membius orang kemudian melakukan tindak kejahatan disaat orang tersebut tidak sadar. Obat-obat yang sering dipakai tersebut biasanya jenis Flunitrazepam, temazepam, midazolam. Obat-obatan ini banyak digunakan pada kasus perkosaan dan perampokan.


[+/-] Selengkapnya...

PENATALAKSANAAN STATUS EPILEPTIKUS



(EFA(Epilepsy Foundation of America), 1993)

Pada konvensi Epilepsy Foundation of America (EFA) 15 tahun yang lalu, status epileptikus didefenisikan sebagai keadaan dimana terjadinya dua atau lebih rangkaian kejang tanpa adanya pemulihan kesadaran diantara kejang atau aktivitas kejang yang berlangsung lebih dari 30 menit. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika seseorang mengalami kejang persisten atau seseorang yang tidak sadar kembali selama lima menit atau lebih harus dipertimbangkan sebagai status epileptikus.

PENATALAKSANAAN

Pada : menit awal
1. Bersihkan jalan nafas, jika ada sekresi berlebihan segera bersihkan (bila perlu intubasi)
a. Periksa tekanan darah
b. Mulai pemberian Oksigen
c. Monitoring EKG dan pernafasan
d. Periksa secara teratur suhu tubuh
e. Anamnesa dan pemeriksaan neurologis
2. Kirim sampel serum untuk evaluasi elektrolit, Blood Urea Nitrogen, kadar glukosa, hitung darah lengkap, toksisitas obat-obatan dan kadar antikonvulsan darah; periksa AGDA (Analisa Gas Darah Arteri)
3. Infus NaCl 0,9% dengan tetesan lambat
4. Berikan 50 mL Glukosa IV jika didapatkan adanya hipoglikemia, dan Tiamin 100 mg IV atau IM untuk mengurangi kemungkinan terjadinya wernicke’s encephalophaty
5. Lakukan rekaman EEG (bila ada)
6. Berikan Lorazepam (Ativan) 0,1 sampai 0,15 mg per kg (4 sampai 8 mg) intravena dengan kecepatan 2 mg per menit atau Diazepam 0,2 mg/kg (5 sampai 10 mg). Jika kejang tetap terjadi berikan Fosfenitoin (Cerebyx) 18 mg per kg intravena dengan kecepatan 150 mg per menit, dengan tambahan 7 mg per kg jika kejang berlanjut. Jika kejang berhenti, berikan Fosfenitoin secara intravena atau intramuskular dengan 7 mg per kg per 12 jam. Dapat diberikan melalui oral atau NGT jika pasien sadar dan dapat menelan.

Pada : 20 sampai 30 menit, jka kejang tetap berlangsung
1. Intubasi, masukkan kateter, periksa temperatur
2. Berikan Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg per kg intravena dengan kecepatan 100 mgper menit

Pada : 40 sampai 60 menit, jika kejang tetap berlangsung

Mulai infus Fenobarbital 5 mg per kg intravena (dosis inisial), kemudian bolus intravena hingga kejang berhenti, monitoring EEG; lanjutkan infus Pentobarbital 1 mg per kg per jam; kecepatan infus lambat setiap 4 sampai 6 jam untuk menetukan apakah kejang telah berhenti. Pertahankan tekanan darah stabil.
-atau-
Berikan Midazolam (Versed) 0,2 mg per kg, kemudian pada dosis 0,75 sampai 10 mg per kg per menit, titrasi dengan bantuan EEG.
-atau-
Berikan Propofol (Diprivan) 1 sampai 2 mg per kg per jam. Berikan dosis pemeliharaan berdasarkan gambaran EEG.

-dari berbagai sumber-

[+/-] Selengkapnya...

LOWONGAN KERJA

BUAT TEMAN-TEMAN DOKTER SEKALIAN INI ADA INFO LOWONGAN PEKERJAAN
DI RS.TRIJATA POLDA BALI

dibutuhkan 1 orang tenaga dokter dengan syarat :
  1. Sudah punya STR.
  2. penampilan layak
  3. umur gak masalah
  4. syarat lain sama seperti melamar pekerjaan di tempat lain
salary :
  1. Gaji pokok 1.250.000
  2. insentif 350.000
  3. uang lain-lain
  4. uang lab
  5. formularium obat
  6. gratis obat
  7. gratis MRS
shift jaga :

SORE-MALAM-LIBUR-LIBUR

berminat? langsung aja bawa lamaran kalian ke RS.Trijata. jam kerja ya!

[+/-] Selengkapnya...

PLEASE WRITE YOUR COMMENT HERE

  © Blogger template Columnus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP